Rabu, 13 Februari 2013
Dan Pada Akhirnya
Dan pada akhirnya di sinilah saya sekarang. Setelah kemarin-kemarin banyak sekali manusia-manusia yang tidak bisa mengerti diri saya. Saya rasa boleh lah sesekali saya menjauh dari mereka untuk sekedar menenangkan hati dan pikiran saya. Saya meningggalkan rumah dengan perasaan yang ngilu dan tentu dengan perut yang lumayan kosong. Hanya dengan selembar uang lima puluh ribuan di dompet. Ke tempat yang sekarang ini saya duduk dan bisa nyaman menulis postingan ini tak perlu mengeluarkan banyak biaya. Ya, saya berada beribu-ribu meter dari rumah orang tua saya. Di kamar teman yang menurut saya bisa dipercaya untuk mengembalikan kenyaman hati yang susah dibeli. Bahkan dengan uang berjuta-juta kenyaman hati itu gak akan bisa dibeli tapi hanya bisa dicari dan diminta dengan ketulusan tak terhingga.
Di dalam sebuah bus sekolah pikiran saya melayang. Benarkah yang saya tuju? Atau saya hanya mengambil keputusan yang gak tepat dengan keadaan pikiran yang kacau balau? Kacau balau? Ya, pikiran saya memang sedang kacau balau. Perasaan saya gak nyaman dan gak tenang. Lalu, apa yang membuat semuanya menjadi seperti itu? banyak. banyak sekali. Bahkan saya sempat berpikir ingin bunuh diri saja. Hahaha tidak! Saya masih lumayan waras untuk bertindak sejauh itu. Paling-paling hanya keinginan untuk hilang ditelan bumi beberapa saat hehehehe. Oke, saya memang banyak becanda… tapi sejujurnya, dalam menulis ini mata saya berkaca-kaca.
Kenapa ya di saat saya sedang semangat-semangatnya memberi perhatian penuh dan rasa cinta yang lebih untuk seseorang tapi orang tersebut malah seolah-olah cuek. Seolah-olah saya gak ada di hidup dia. Saya tahu dia mencintai saya, saya tahu dia sayang sama saya. Tapi saya gak tahu siapa sih dia? Kenapa dia begitu? apa maunya? Saya bener-bener gak tahu. Yang saya tahu saya kecewa. Pakek Berat malah. Dan anehnya di saat cinta susah untuk dimengerti orang-orang di sekitar gak mengerti saya. Saya merasa gak punya tameng. Semua orang menyerbu tanpa ampun. Pertahanan saya hancur.
Dan pada akhirnya di sinilah saya sekarang. setelah beberapa jam yang lalu saya hirup udara yang beraromakan gula yang manis serta saya manjakan mata saya dengan melihat pohon-pohon tebu yang membentang luas di kiri dan kanan jalan. Daun-daun tebu melambai-lambai mengucapkan selamat datang. Helai-helainya menari dengan keriangan. Sayang, hati saya gak bisa dibujuk semudah itu. kesedihan dan rasa kecewa ini terlalu dalam menelusuk sukma yang selama ini kuat bertahan. Siapa juga sih yang suka dengan rasa kecewa? Siapa juga sih yang mau hidup sendiri? Saya rasa gak ada. Semua orang ingin hidupnya lengkap dan sempurna. Sedangkan saya datang kemari hanya dengan kepingan-kepingan bahagia yang gak lengkap. Semuanya hanya sisa-sisa. Selebihnya kepengin-kepingan itu hanya kepingan kesedihan dan kekecewaan.
Dan pada akhirnya di sinilah saya sekarang. Ketika datang saya lihat keteduhan hati seorang Ibu dengan suguhan teh manis, panas dan kental. Jenis Teh yang saya suka. Tiba-tiba hati saya berbisik “Heemm lumayan” setidaknya ada rasa nyaman sedikit yang diam-diam masuk ke dalam sukma. Setidaknya ada sedikit harapan bahwa di tempat ini saya bisa mengembalikan kenyaman hati dan pikiran saya. Dan pada akhirnya di sinilah saya sekarang!!! kamu bisa terima, kan?!
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar