Kamis, 19 Desember 2013
Apa saya kawatir?
Bulan Desember ini hampir setiap hari mendung, hampir setiap hari hujan.. tapi anehnya saya yang sebelum-sebelumnya selalu memuja hujan hingga kedasar untuk kali ini sangat-sangat tidak suka. Maksud saya bukan membenci hanya tidak suka. tetiba melodi yang indah dari reruntuhan hujan tak seindah dulu yang saya dengar, bahkan cenderung berisik, memekakkan telinga dan membuat saya ketakutan, membuat saya khawatir dan membuat saya panas dingin. Entahlah, setidaknya setelah saya berkeputusan untuk tidak suka hujan tahun ini mendadak saya teringat dua perempuan yang selalu saya kagumi walau mereka tidak pernah tahu itu. Memang karena saya gak jujur, sih. Saya gak bisa ngebayangin kalau mereka tahu "dosa" besar saya ini. Mungkin Kerikil-kerikil kecil menghujani saya yang mereka lepaskan dari tangan-tangan mereka hahahaha. Yupz, mereka berdua adalah perempuan-perempuan penggemar hujan bahkan fans "garis keras" hahaha... sebenarnya bertiga ditambah saya sebelum saya mengambil keputusan untuk sementara tak suka hujan hehehehe...
Mungkin alasan kenapa saya mendadak gak suka hujan bukan alasan yang prinsipil tapi memang begitu adanya. Saya gak bisa kasih alasan yang lebih tepat atau lebih rinci karena sebagian dari diri saya juga mengalami kebingungan yang luar biasa. Dari yang suka sekali dengan hujan mendadak mandek gitu aja. Bahkan yang lebih mengejutkan lagi, saya gak suka Bulan Desember. Saya ingin bulan ini bila perlu besok berakhir... Yang biasanya saya selalu enjoy menjalani hari-hari entah kenapa di bulan ini ada yang menggelayuti jejak langkah saya, seolah-oalah saya stag dan gak maju-maju. Ibarat nelayan saya kehilangan arah. Rasanya nafas saya sesak, jantung saya berdebar lebih kencang. Bulan Desember bulan yang penuh "engap" menurut pengalaman saya...
Apa saya khawatir? entahlah.. saya gak bisa menebak apakah saya khawatir atau saya cuma iseng. Yang saya tahu, perasaan saya gak menentu. Hati saya kebas. Pikiran saya melayang-layang entah kemana sehingga terkadang saya membayangkan hal-hal di luar nalar. Saya jadi suka membebaskan pikiran saya berjalan-jalan kemana-mana. Sekendak ia ingin berpikir. Saya gak bisa membatasinya.. perasaan saya kalah sama otak saya.
Apa saya khawatir? Hati kecil saya pun gak tau jawabannya...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar