Dedew's Blog
Jumat, 23 Mei 2014
Saya dan Jiwa yang Baru
Maaf kalo sudah berbulan-buan saya gak update blog ini. Saya gak update blog ini bukan karena saya merasa hidup saya jauh lebih baik atau saya sudah sepenuhnya mendapat kebahagian hingga saya gak butuh menulis di blog ini. Yang pasti sudah 7 bulan terakhir aktivitas saya adalah mengajar dan mengajar. Setiap pagi sampai siang saya selalu berada di sekeliling anak-anak usia 3-5 tahun dengan tingkah-tingkah mereka yang lucu. Saya terbiasa melihat meja-meja dan kursi-kursi kelas yang kecil-kecil. Saya terbiasa melihat jungkat-jungkit, ayunan, perosotan setiap harinya. Saya terbiasa membersihkan muntahan mereka apabila mereka muntah karena perut terasa gak enak. Saya juga terbiasa mengawasi mereka bermain seolah-olah mereka anak-anak saya. Ah, betapa bahagianya saya walau terkadang ada sebagian dari mereka yang bahkan tidak mengerti apa itu sopan santun” hahahaha untungnya saya selalu punya stok sabar yang gak perlu isi ulang hehehehe.penglaman saya menjadi guru TK amat berarti buat saya. Walau belum bertahun-tahun di bidang ini saya merasa pengalaman saya sudah tumpah ruah. Saya menjadi tahu bagaimana mereka harus didekati bila sedang “ngambek” atau saat kenakalan mereka di luar batas. Memang terkadang saya masih gak percaya kalau pada akhirnya saya justeru berkecimpung di bidang ini. Tidak pernah terpikir di otak saya kalau saya harus mendidik anak-anak usia 3-5 tahun. Apalagi dengan keterbatasan kemampuan karena saya gak sekolah di bidang itu. Pengalaman saya terhadap anak balita hanya saya praktikan kepada tiga keponakan saya. Jadi sebelum-sebelumnya saya memang gak pernah punya pengalaman mengurus atau mendidik balita hihihihi. tapi sejauh ini saya merasa semuanya berjaan dengan baik. Apalagi kepala sekolah serta teman-teman dewan guru cukup mengakui kinerja saya hehehehe.
Ohiya, sebulan terakhir juga saya sudah menjadi orang yang beda. Saya bukan lagi seorang perempuan yang bersikap “semau gue”. Saya bukan lagi seorang perempuan yang hanya memikirkan diri saya sendiri. Saya bukan lagi perempuan yang setiap malam tidur sendiri dan bangun pagi-pagi dengan perasaan gelisah serasa gak ada yang mencintai. Saya bukan lagi perempuan yang seperti itu. Sekarang saya mempunyai “teman hidup” yang Insha Alloh memang yang ditakdirkan oleh-Nya. Setiap bangun subuh-subuh ada “teman” di samping tempat saya berbaring. Ya, sekarang saya adalah seorang isteri dari seorang aki-laki bernama Wempy Surya Wijaya. Ya ya ya, namanya memang tiga kata sama persis seperti saya. Saya percaya bahwa dia tercipta untuk saya dan saya tercipta untuknya. Dia Surya (Matahari). Saya Wulan (Bulan). Nama kami saling melengkapi. Heemmm sebenernya sih itu untuk menghibur diri saya aja hehehe.
Saya merasa hidup saya hampir lengkap. Belahan jiwa saya sudah hadir mengisi kalbu yang abadi. Saya bener-bener sayang sama dia. Bahkan saya gak tau seberapa besar saya mencintai dan menyayangi dia. Karena cinta di hati ini bener-bener ga bisa dihitung. Bersama dia bahkan saya gak takut apapun. Bersama dia saya gak khawatir apakah saya akan hidup bahagia atau gak. Saya gak peduli selama dia bener-bener tulus mencintai dan menjaga saya.
Oke, saya harus cepat-cepat menyelesaikan postingan ini, sebentar lagi suami saya pulang, saya gak mau dia kege’eran baca postingan ini hehehehe.
Kamis, 19 Desember 2013
Apa saya kawatir?
Bulan Desember ini hampir setiap hari mendung, hampir setiap hari hujan.. tapi anehnya saya yang sebelum-sebelumnya selalu memuja hujan hingga kedasar untuk kali ini sangat-sangat tidak suka. Maksud saya bukan membenci hanya tidak suka. tetiba melodi yang indah dari reruntuhan hujan tak seindah dulu yang saya dengar, bahkan cenderung berisik, memekakkan telinga dan membuat saya ketakutan, membuat saya khawatir dan membuat saya panas dingin. Entahlah, setidaknya setelah saya berkeputusan untuk tidak suka hujan tahun ini mendadak saya teringat dua perempuan yang selalu saya kagumi walau mereka tidak pernah tahu itu. Memang karena saya gak jujur, sih. Saya gak bisa ngebayangin kalau mereka tahu "dosa" besar saya ini. Mungkin Kerikil-kerikil kecil menghujani saya yang mereka lepaskan dari tangan-tangan mereka hahahaha. Yupz, mereka berdua adalah perempuan-perempuan penggemar hujan bahkan fans "garis keras" hahaha... sebenarnya bertiga ditambah saya sebelum saya mengambil keputusan untuk sementara tak suka hujan hehehehe...
Mungkin alasan kenapa saya mendadak gak suka hujan bukan alasan yang prinsipil tapi memang begitu adanya. Saya gak bisa kasih alasan yang lebih tepat atau lebih rinci karena sebagian dari diri saya juga mengalami kebingungan yang luar biasa. Dari yang suka sekali dengan hujan mendadak mandek gitu aja. Bahkan yang lebih mengejutkan lagi, saya gak suka Bulan Desember. Saya ingin bulan ini bila perlu besok berakhir... Yang biasanya saya selalu enjoy menjalani hari-hari entah kenapa di bulan ini ada yang menggelayuti jejak langkah saya, seolah-oalah saya stag dan gak maju-maju. Ibarat nelayan saya kehilangan arah. Rasanya nafas saya sesak, jantung saya berdebar lebih kencang. Bulan Desember bulan yang penuh "engap" menurut pengalaman saya...
Apa saya khawatir? entahlah.. saya gak bisa menebak apakah saya khawatir atau saya cuma iseng. Yang saya tahu, perasaan saya gak menentu. Hati saya kebas. Pikiran saya melayang-layang entah kemana sehingga terkadang saya membayangkan hal-hal di luar nalar. Saya jadi suka membebaskan pikiran saya berjalan-jalan kemana-mana. Sekendak ia ingin berpikir. Saya gak bisa membatasinya.. perasaan saya kalah sama otak saya.
Apa saya khawatir? Hati kecil saya pun gak tau jawabannya...
Rabu, 06 November 2013
Bagi Saya
Padahal baru kemarin orang-orang berteriak-teriak bilang "kapan musim penghujan datang?" dan sekarang bahkan musim itu sudah datang.. setiap hari mendung, setiap hari hujan, setiap hari lembab dan basah. Ah, tapi bagi saya kemarau atau penghujan sama saja.. toh air mata tetap tidak pernah kering. selalu bisa dipancing untuk keluar membanjiri wajah. Enggak... saya gak bilang kalau saya sedang sedih.. sesedih atau sesakit apa hati saya, saya akan slalu bilang bahwa saya bahagia. Gak peduli beribu-ribu anak panah menghujam jantung saya, gak peduli seberapa besar anak timbangan menghantam saya.
Saya selalu percaya bahwa Tuhan beneran ada. Saya bisa merasakannya. Ketika pikiran saya kacau itu pertanda Tuhan ada. Ketika hati saya gak keruan itu pertanda Tuhan ada. Ketika saya menangis itu pertanda Tuhan ada. Ketika saya bahagia dan saking bahagianya saya sampai tertawa terbahak-bahak itu pertanda Tuhan ada. Apapun... apapun yang saya rasakan itu pertandan Tuhan ada.
Hah! Entahlah... bagi saya segalanya gak penting kecuali Tuhan. Bagi saya segalanya gak ngaruh kecuali Tuhan. Bagi saya.. ah.. air mata lagi.. *usap* *lanjut nulis* bagi saya segalanya maya kecuali Tuhan.
Bahkan saya gak takut petir-petir itu menyalak-nyalak.. bersaut-sautan seolah bikin hati saya gentar.. aduuhhh berisik sekali... barusan saya tengok jendela kamar.. mendung lagi.. sebentar lagi pasti hujan.. tapi di kamar ini sudah hujan duluan.. ahhh kopinya jadi asin.. mau nyicip? sini segelas berdua.. tapi kamu satu seruputan saja ya? oh kamu mau tiga? boleh.. :)
Kamis, 24 Oktober 2013
Menjaga Yang Ada
Semua akan indah pada waktunya. Setidaknya itulah yang sering orang-orang katakan. Saya ambil kesimpulan; berarti kalau belum indah ya belum waktunya. Semoga saya bisa dan sempat merasakan keindahan yang sesungguhnya. Saya akan mengatakan keras-keras pada hati saya sendiri bahwa saya bahagia. Saya rasa Tuhan emang bener-bener sayang sama saya. Bahkan Dia gak hanya mengabulkan apa yang saya butuhkan, tapi juga mengabulkan apa yang saya inginkan. Untuk saat ini saya selalu merasa cukup bahagia, saya cukup sibuk dan saya cukup diperhatikan.
Saya selalu bilang sama hati saya "yang terpenting adalah bagaimana saya mencinta" saya gak peduli seberapa besar rasa cintanya ke saya. Yang saya pedulikan adalah seberapa besar rasa cinta saya ke dia. Karena saya gak mau rasa cinta yang sudah gegap gempita ini sedikit-sedikit hilang. Justru yang saya khawatirkan adalah berkurangnya rasa cinta saya ke dia.
Saya tahu, jodoh memang Alloh yang tentukan. Saya gak mau berspekulasi apalagi berasumsi. Yang terpenting untuk saat ini saya berusaha menjaga yang ada. Saya bahkan gak peduli "dua" yang mengaku cinta hehehehehe.
Oke, pengalaman diabaikan, disakiti biarlah menjadi kenangan. Saat ini saya berusaha membangun sedikit demi sedikit bahagia. Sedikit demi sedikit memunguti kepingan-kepingan hati yang tercecer. Berusaha mencintai dia dan melupakan kesalahan-kesalahan lalu. Saya mencintai yang ada, saya menjaga yang ada. Saya berharap dengan yang ada. Saya taruh harapan saya pada hatinya. Saya sih gak mengharap banyak, cuma ingin dia setia seumur hidup dan memperlakukan saya layaknya perempuan yang penuh cinta...
Selasa, 16 April 2013
Setidaknya Saya Beruntung
Mungkin saya adalah salah satu tipe manusia yang kalau sedang dirundung sedih selalu ingat menulis. Sedangkan kalau sedang dihujani rasa bahagia selalu lupa menulis. Begini, sebenernya sih saya gak bilang kalau saya lagi bahagia.. saya juga gak terlalu ngerti apakah dua minggu belaknagan ini saya merasa bahagia. Yang saya tahu saya hampir "sembuh" dari sakit gila no 36 yang sempat saya idap. tapi yahhh sekali lagi saya belum terlalu paham apakah saya memang pasti bahagia saat ini atau gak. Karena berdasarkan apa yang saya alami, rasa bahagia gak pernah bisa abadi.. terkadang ia pergi tanpa permisi. Jadi saya gak mau sebut ini bahagia. mungkin bisa saya sebut saja ini keberuntungan. Beruntung buat saya karena setidaknya tingkah orang-orang yang saya sayangi lebih terlihat normal. Setidaknya ada bentuk "perhatian, cinta, dan kasih sayang" yang sedikit-sedikit mulai ditampakkan. Saya harap sih itu semua gak palsu. Tapi saya tetap percaya bahwa Tuhan gak akan mungkin meninggalkan saya. Saya percaya. Terima kasih Tuhan Maha Membolak-balikan hati,..
Rabu, 13 Februari 2013
Dan Pada Akhirnya
Dan pada akhirnya di sinilah saya sekarang. Setelah kemarin-kemarin banyak sekali manusia-manusia yang tidak bisa mengerti diri saya. Saya rasa boleh lah sesekali saya menjauh dari mereka untuk sekedar menenangkan hati dan pikiran saya. Saya meningggalkan rumah dengan perasaan yang ngilu dan tentu dengan perut yang lumayan kosong. Hanya dengan selembar uang lima puluh ribuan di dompet. Ke tempat yang sekarang ini saya duduk dan bisa nyaman menulis postingan ini tak perlu mengeluarkan banyak biaya. Ya, saya berada beribu-ribu meter dari rumah orang tua saya. Di kamar teman yang menurut saya bisa dipercaya untuk mengembalikan kenyaman hati yang susah dibeli. Bahkan dengan uang berjuta-juta kenyaman hati itu gak akan bisa dibeli tapi hanya bisa dicari dan diminta dengan ketulusan tak terhingga.
Di dalam sebuah bus sekolah pikiran saya melayang. Benarkah yang saya tuju? Atau saya hanya mengambil keputusan yang gak tepat dengan keadaan pikiran yang kacau balau? Kacau balau? Ya, pikiran saya memang sedang kacau balau. Perasaan saya gak nyaman dan gak tenang. Lalu, apa yang membuat semuanya menjadi seperti itu? banyak. banyak sekali. Bahkan saya sempat berpikir ingin bunuh diri saja. Hahaha tidak! Saya masih lumayan waras untuk bertindak sejauh itu. Paling-paling hanya keinginan untuk hilang ditelan bumi beberapa saat hehehehe. Oke, saya memang banyak becanda… tapi sejujurnya, dalam menulis ini mata saya berkaca-kaca.
Kenapa ya di saat saya sedang semangat-semangatnya memberi perhatian penuh dan rasa cinta yang lebih untuk seseorang tapi orang tersebut malah seolah-olah cuek. Seolah-olah saya gak ada di hidup dia. Saya tahu dia mencintai saya, saya tahu dia sayang sama saya. Tapi saya gak tahu siapa sih dia? Kenapa dia begitu? apa maunya? Saya bener-bener gak tahu. Yang saya tahu saya kecewa. Pakek Berat malah. Dan anehnya di saat cinta susah untuk dimengerti orang-orang di sekitar gak mengerti saya. Saya merasa gak punya tameng. Semua orang menyerbu tanpa ampun. Pertahanan saya hancur.
Dan pada akhirnya di sinilah saya sekarang. setelah beberapa jam yang lalu saya hirup udara yang beraromakan gula yang manis serta saya manjakan mata saya dengan melihat pohon-pohon tebu yang membentang luas di kiri dan kanan jalan. Daun-daun tebu melambai-lambai mengucapkan selamat datang. Helai-helainya menari dengan keriangan. Sayang, hati saya gak bisa dibujuk semudah itu. kesedihan dan rasa kecewa ini terlalu dalam menelusuk sukma yang selama ini kuat bertahan. Siapa juga sih yang suka dengan rasa kecewa? Siapa juga sih yang mau hidup sendiri? Saya rasa gak ada. Semua orang ingin hidupnya lengkap dan sempurna. Sedangkan saya datang kemari hanya dengan kepingan-kepingan bahagia yang gak lengkap. Semuanya hanya sisa-sisa. Selebihnya kepengin-kepingan itu hanya kepingan kesedihan dan kekecewaan.
Dan pada akhirnya di sinilah saya sekarang. Ketika datang saya lihat keteduhan hati seorang Ibu dengan suguhan teh manis, panas dan kental. Jenis Teh yang saya suka. Tiba-tiba hati saya berbisik “Heemm lumayan” setidaknya ada rasa nyaman sedikit yang diam-diam masuk ke dalam sukma. Setidaknya ada sedikit harapan bahwa di tempat ini saya bisa mengembalikan kenyaman hati dan pikiran saya. Dan pada akhirnya di sinilah saya sekarang!!! kamu bisa terima, kan?!
Sabtu, 15 Desember 2012
Dua Bayi Perempuan & Satu Balita Perempuan
Hap hap hap,... seperti tinggal petik saja mendapatkan seorang bayi. Di rumah saya ada dua bayi dan satu balita. Semuanya keponakan. Dan mereka perempuan. Ya, kesemuanya perempuan. Rumah ini jadi ramai bukan buatan. Saya senang,ga mungkin saya gak senang. Ketiga keponakan saya cantik-cantik. Cuma satu sih yang bikin kuatir : jadi kesaing cantiknya hehehehe becanda kok. Belum lagi ditambah tante saya yg baru melahirkan juga. Doi sering main ke rumah saya. Hey.. anaknya juga perempuan.
Saya jadi lebih cekatan dalam menghadapi bayi-bayi yang rewel dan balita yang kadang ga sabaran, suka ngambek dan main fisik. Padahal semua orang tahu saya masih lajang bahkan dijamin masih gadis hehehhe. Tapi kesibukan saya akhir-akhir ini seperti Ibu Rumah Tangga saja. Gak, saya gak sedih kok menjalaninya malahan seneng. Banyak juga yang bilang "Nanti kalau sudah menikah urusan beginian jadi lebih gampang. Kamu sudah luwes nantinya kalo menghadapi anak-anakmu." dan saya cuma bisa balas kalimat itu dengan senyuman kecut. Hahahaha, bahkan saya bermimpi punya anak satu lusin. Beneran deh, saya gak main-main. Saya bener-bener kepengin punya anak yang banyak. Semoga Tuhan mengijinkan. Gak mesti anak yang lahir dari rahim saya sih, mengurus anak yang terlantar kayaknya oke juga tuh.
Oiya, Berikut nama-nama Ketiga keponakan saya
1. Alita Azka Lutfiyah (3 September 2010)
2. Ozella licia Putri Aqso (22 Oktober 2012)
3. Agita Azka Lutfiyah (11 Desember 2012)
Langganan:
Komentar (Atom)
